Kejari Wonogiri Turun Tangan terkait Bantuan Sapi yang Macet

Banner IDwebhost

Hariansoloraya.com, Wonogiri — Puluhan penggaduh ternak sapi bantuan pemerintah yang diduga nakal terpaksa harus berurusan dengan aparat. Bahkan, satu persatu penggaduh tersebut sudah diundang dan ditagih oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri untuk menggantikan sapi bantuan yang telah raib.

“Tahun 2019 ini ada 27 penggaduh yang macet. Oleh sebab itu, kami memberikan bantuan hukum untuk Pemkab Wonogiri dengan melakukan penagihan. Karena sejak awal bergulir bantuan ini Kejari dan Pemkab Wonogiri sudah teken MoU,” ungkap Kajari Wonogiri Agus Irawan Yustisianto melalui Kasie Datun (Perdata dan Tata Usaha Negara) Benny Kurniawan kepada awak media, Senin (14/10).

Menurut dia, para peternak tersebut sudah diundang ke Kejari Wonogiri untuk melakukan pembayaran gaduhan ternak yang sempat mereka gaduh. Namun begitu, dari 27 orang penggaduh yang diundang hanya tiga orang yang hadir. Mereka mengaku macetnya bantuan yang seharusnya bergulir itu karena sapinya dijual karena faktor ekonomi.

“Mereka harus menggantikan hewan ternak yang dijual. Dengan aturan satu sapi dan setengah anaknya. Kami juga memberi kemudahan, dengan cara diangsur. Tapi, dari tiga orang ini baru dua orang yang bersedia mengangsur. Jadi, total hasil penagihan yang kita terima hari ini Rp 2.225.000. Uang langsung kita setor ke rekening bank,” paparnya.

Ditambahkan, penyelesaian perkara ini disebut non litigasi atau penyelesaian sengketa hukum perdata dan tata usaha negara di luar pengadilan atau arbitrase yang dilakukan secara negosiasi. Beny menyatakan, penagihan bisa dengan cara mengundang penggaduh ataupun didatangi rumahnya.

“Karena ini sifatnya bantuan maka penggaduh wajib mengembalikan. Jadi tidak bisa dipidanakan,” tandasnya. (Red)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kejari Wonogiri Turun Tangan terkait Bantuan Sapi yang Macet"