oleh

Potensi Bioplastik Dari Tebu Dalam Rangka Mengurangi Penggunaan Plastik Konvensional

HarianSoloRaya.com, Bogor – Plastik merupakan kemasan yang paling banyak digunakan sebagai kemasan pangan. Di Indonesia, kemasan plastik digunakan telah lebih dari 50%. Alasan dibalik banyaknya penggunaan kemasan plastik karena kemasan plastik mudah dicetak dan dibentuk, bersifat lentur hingga kaku, ringan, ketahanan terhadap benturan, dan transparan.

Hampir seluruh plastik di dunia dibuat menggunakan bahan bakar fosil dan hanya 1% plastik yang diproduksi dari bahan terbarukan (bioplastik). Perlu diingat bahwa sumber daya fosil ini bersifat terbatas dan sekitar 4% dari produksi minyak dunia diubah menjadi plastik. Ketika bahan baku fosil ini habis untuk digunakan dalam pembuatan plastik, maka diperlukan sumber bahan baku lain yang penting untuk memproduksi plastik ini. Selain itu, perlu diketahui bahwa hampir seluruh plastik yang dibuat menggunakan bahan bakar fosil akan menghasilkan emisi gas rumah kaca disetiap siklus hidup plastik tersebut. Emisi gas rumah kaca ini mampu meningkatkan suhu bumi, sehingga dampak perubahan iklim yang disebabkan plastik ini adalah nyata dan signifikan. Oleh karena itu, banyak upaya yang telah dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia. Salah satu upaya yang dilakukan di bidang industri pangan untuk mengurangi penggunaan plastik berbahan fosil, yaitu dengan mengganti beberapa kemasan plastik menggunakan bioplastik yang lebih ramah lingkungan.

Bioplastik  merupakan istilah yang digunakan untuk mencakupi plastik yang berbasis bahan alami (biobased plastic) dan plastik yang dapat terurai secara hayati (biodegradable plastic). Plastik biodegradable ini juga mencakupi plastik berbahan fosil (misalnya PBAT, PCL, PVA), sehingga penggunaan plastik-plastik berbahan fosil ini juga perlu dikurangi. Sedangkan plastik biobased terdiri dari dua kelompok utama, yakni biodegradable (misalnya PLA, PHAs) dan non-biodegradable (misalnya bio-PET, bio-PE, PEF, bio-PP).

Penggunaan bioplastik memiliki keuntungan, yakni dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya fosil yang mana sumber dayanya terbatas dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Bioplastik yang dipakai ini juga memiliki sifat yang sama dengan plastik berbahan fosil, sehingga mudah untuk di daur ulang pada pabrik yang sudah ada karena sama halnya dengan sistem daur ulang plastik berbahan fosil. Bioplastik ini juga sepenuhnya dapat didaur ulang. Selain itu, limbah selama proses pembuatan bioplastik juga dapat digunakan sebagai sumber energi listrik terbarukan, sehingga dapat mengurangi biaya energi yang dibutuhkan.

Salah satu bahan plastik yang telah banyak dikembangkan dan digunakan untuk memproduksi plastik biobased ialah tebu. Tebu (sugarcane) dipilih sebagai bahan baku bioplastik dikarenakan kaya akan karbohidrat. Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan bioplasik, yaitu baik dalam bahan baku mentah ataupun limbah dari proses pembuatan tebu. Tebu memiliki produktivitas energi yang paling tinggi dibandingkan dengan sumber bioetanol lainnya. Tebu juga mampu tumbuh dengan cukup cepat, sehingga dapat memenuhi permintaan akan gula dan etanol. Beberapa jenis bioplastik dari tebu yang sudah komersial digunakan sebagai bahan kemasan produk pangan diantaranya bio-PE dan bio-PET. 

Tebu

(Sumber: weltradepackaging.com.au)

 

PE merupakan salah satu jenis plastik yang paling banyak digunakan, misalnya untuk pengemasan (kantong plastik, film plastik, geomembran, dan wadah termasuk botol). Monomer etilen yang digunakan dalam pembuatan plastik PE ini biasanya dibuat dari bahan baku fosil misalnya dari minyak mentah, gas alam, atau metana. Namun sekarang ini, monomer etilen ini telah dapat diproduksi melalui tebu. Secara umum proses pembuatan bio-PE, yakni glukosa yang diperoleh dari tebu difermentasi secara anaerob untuk mendapatkan etanol. Bio-etanol ini dihilangkan airnya dan akan mendapatkan bio-etilen. Bio-etilen ini akan dipolimerisasi dan menghasilkan bio-polietilen (bio-PE).

Bio-PE di kemasan susu

(Sumber: tetrapak.com)

Sama halnya dengan PE, plastik PET juga termasuk kedalam plastik yang umum digunakan dalam industri pangan, terutama sebagai botol. Salah satu bahan penyusun PET, yakni monoetilen glikol (MEG). MEG ini dapat dibuat dari bahan fosil ataupun dari bahan alam (Bio-MEG). Salah satu tanaman yang umum digunakan untuk pembuatan Bio-MEG, yakni tebu. Bio PET diproduksi oleh 70% asam tereftalat dan 30% etilen glikol. Sedangkan untuk produksi asam tereftalat (AT) sendiri melalui prosedur yang berbeda dengan pembuatan bio-MEG. Secara umum bio-AT dihasilkan melalui proses konversi dari bioetilen menjadi bio-paraxylene yang selanjutnya akan dikonversi menjadi bio-AT.

Botol bio-PET

(Sumber: businesswire.com)

(Red)

1
SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terkini