Korban Pembobolan Kartu Kredit Minta OJK dan Polisi Usut Tuntas

Banner IDwebhost

SOLO, HARIANSOLORAYA.COM – Kekhawatiran korban pembobolan kartu kredit, LHJ (58) warga Colomadu, Kabupaten Karanganyar ternyata terbukti. Baru saja, dirinya mendapat pemberitahuan penagihan pembayaran kartu kredit baik dari pihak Bank BCA maupun BNI.

“Pemberitahuan penagihan pembayaran kartu kredit dilayangkan melalui email baik BNI maupun BCA. Padahal, saya sudah melakukan aduan bahwa tidak menggunakan uang tersebut,” kata LHJ, Kamis (20/2).

Tak hanya surat tagihan pembayaran kartu kredit, kata LHJ, pihaknya juga menerima telepon dari pihak Bank BCA terkait aduannya ditolak. Padahal, aduan tersebut telah dilakukan tanggal 20 Januari 2020 dan disusul dengan aduan tertulis tanggal 10 Februari 2020 lalu.

Terkait hal itu, Kuasa Hukum LHJ, Kusumo Putro mengatakan, seharusnya pihak bank melakukan investigasi terlebih dahulu sebelum melayangkan surat tagihan penggunaan kartu kredit kepada kliennya. Pasalnya, LHJ sama sekali tidak menggunakan kartu kredit dari BNI dan BCA.

“Klien saya tidak menggunakan kartu kreditnya sama sekali. Seharusnya, pihak bank melakukan investigasi terlebih dahulu terkait aduan klien kami baru melayangkan surat penagihan pembayaran kartu kredit,” tandas Kusumo.

Menurutnya, peristiwa dugaan pembobolan kartu kredit ini telah ditindaklanjuti kliennya dengan melakukan aduan tanggal 20 Januari lalu. Setelah itu, pihaknya melaporkan kasus tersebut ke Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah tanggal 10 Februari. Dari Polda Jawa Tengah, LHJ mendapatkan surat laporan nomor STPA/ 63/ II/ 2020/ Reskrimsus.

“Dari laporan Polda Jateng tersebut, kami buat aduan tertulis ke masing-masing bank baik BNI maupun BCA. Bahkan, sampai ke OJK maupun ke BI untuk menegaskan bahwa klien kami ini sebagai korban. Penggunaan dana kartu kredit itu tidak dilakukan oleh klien kami namun digunakan oleh pihak tak bertanggung jawab,” jelas Kusumo.

Pihaknya menyayangkan, langkah pihak bank yang membebankan tagihan penggunaan kartu kredit kepada kliennya tanpa melakukan investigasi terlebih dahulu. Padahal, sudah jelas jika kliennya membuat aduan dan diterima secara tertulis oleh pihak bank.

Mengenai kasus tersebut, Kusumo berharap supaya pihak bank menangguhkan terlebih dahulu tagihan pembayaran kartu kredit kepada kliennya. Disisi lain, pihaknya juga mendesak agar Kepolisian segera menindaklanjuti kasus yang menimpa kliennya agar terungkap dan terang benderang.

“Klien kami tidak akan menghindar. Jika terbukti menggunakan dana tersebut, dia siap membayar. Tapi, sebaliknya. Jika tidak bisa dibuktikan terkait penggunaan dana kartu kredit itu, maka klien kami tidak bersedia untuk membayar dan segera pulihkan nama baiknya,” tegas Kusumo.

Seperti diketahui, LHJ (58), warga Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar terkejut setelah dirinya menerima tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 134 juta pada Bulan Januari 2020. Padahal, selama enam bulan dirinya tidak menggunakan kartu kreditnya untuk transaksi pembelian barang.

Kasus ini bermula, saat LHJ menerima tagihan penggunaan kartu kredit melalui pesan email mencapai Rp 134 juta. LHJ sendiri memiliki empat kartu kredit. LHJ menduga ada orang yang telah membobol keempat kartu kredit miliknya untuk membeli barang-barang di toko online.

Dia mengaku, telah mengklarifikasi kejadian itu kepada pihak perbankan yang menerbitkan kartu kredit.

Terkait transaksi kartu kredit miliknya, LHJ mengatakan, terdapat dua transaksi yang mengakibatkan kerugian hingga Rp 134 Juta, yakni pada 16 Januari 2020 dan 19 Januari 2020. Pada tanggal 16 Januari 2020 itu ada 24 transaksi dengan jumlah kerugian Rp 120,2 Juta dan berlanjut tanggal 19 Januari 2020 dengan nilai kerugian Rp 13,9 Juta. (Red/Ch86)

1
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Korban Pembobolan Kartu Kredit Minta OJK dan Polisi Usut Tuntas"