Dinas Minta Ada Pembangun IPAL terkait Limbah Produksi Tahu Cemari Sungai Modinan Ngawen, Klaten

Banner IDwebhost

HarianSoloRaya, Klaten – Limbah produksi tahu mencemari Sungai Modinan, Desa Drono,  Kecamatan Ngawen,  Kabupaten Klaten. Warga mengeluhkan bau dan air yang menyebabkan gatal di badan.

Rawuh, Warga Dusun Mlandangan, Desa Drono, Kecamatan Ngawen, mengatakan air limbah tahu itu menimbulkan bau busuk. ” Terutama di saat musim kemarau karena air yang tidak lancar mengalir,” jelasnya, Rabu (6/11).

Dikatakannya, air sungai di utara desanya itu kalau kena kaki langsung muncul bintik-bintik dan bernanah. Rasanya panas dan gatal. Saat musim kemarau seperti sekarang dirinya tidak turun ke sungai mencari pasir. Risikonya kaki dan tangan gatal jika terkena air sungai.

Untuk memilih aman, dirinya tidak bekerja dulu karena sebagai pencari pasir harus turun ke sungai. Padahal ada air sisa pabrik tahu yang setiap hari masuk ke sungai. Pencari pasir lainnya, Giyanto mengatakan warga tidak berani memastikan apakah penyebab gatal itu air limbah tahu. Namun jika menyentuh air memang gatal dan melepuh. Jadi harus hati-hati.

Dia menuturkan sisa air produksi tahu dari wilayah atas memang sejak lama dialirkan ke sungai. Sekitar lima rumah membuat tahu ada di Dusun/ Desa Drono. Di Dusun Mlandangan ada tiga rumah pembuatan tahu. Airnya juga masuk ke sungai sehingga warna hitam dan berbau busuk saat kemarau. Masalah limbah itu sebenarnya sudah dikeluhkan sejak lama. Bahkan warga yang berada di hilir dekat bendungan dan pintu air pernah melapor ke balai desa. Warga di sekitar bendung itu masuk wilayah Dusun Sukorejo, Desa Candirejo.

Salah seorang warga di dekat bendungan Irfan, mengatakan kondisi di dusunya di wilayah hilir saat ini sudah lebih baik dari yang di hulu. Sebab sejak bendungan dibangun air mengalir lancar.

”Sebab airnya lancar sekarang limbah tidak menggenang tetapi ikuit mengalir meskipun bau tidak sedap tetap ada,” katanya.

Menurut Camat Ngawen, Ana Fajriah Hidayati soal limbah itu sudah ditindaklanjuti. Dinas terkait, muspika, pemerintah desa, Polres, pemilik usaha dan warga sudah bertemu.

Saat pertemuan pemilik usaha sanggup membuat tampungan sementara. Nantinya akan dibuatkan instalasi IPAL dengan dana DAK 2020.

Hal senada dijelaskan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Klaten, Srihadi. Menurutnya limbah yang masuk sungai Modinan itu berasal dari industri kecil tahu. Jumlahnya tidak banyak.

”Limbahnya dari rumah produksi tahu dan jumlahnya cuma delapan. Sejak bulan September sudah kami cek,” ungkapnya.

Hasil pengecekan limbah dibuang ke sungai sebab warga tidak memiliki sumur resapan. Sebab dekat sungai dibuang ke sungai meskipun itu dilarang. Setelah ada pertemuan, para pemilik usaha sudah sepakat akan membuat sumur resapan sementara. Solusi permanennya, pemerintah akan membuat IPAL komunal dengan dana pemerintah. (Red)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dinas Minta Ada Pembangun IPAL terkait Limbah Produksi Tahu Cemari Sungai Modinan Ngawen, Klaten"