oleh

Deteksi Kematangan Buah pada Kemasan Cerdas (Intelligent Packaging) dengan Indikator “RipeSence”

HARIANSOLORAYA.COM — Produk jadi yang akan diditribusikan, disimpan atau dijual perlu dikemas guna mencegah atau meminimalisir kerusakan pada produk. Adapun definisi pengemasan adalah suatu proses membungkus serta mengawetkan dan melindungi makanan dari bahaya fisik, kimia, dan mikrobiologi yang dapat mempengaruhi keamanan dan kualitas pangan. 

Bahan pengemasan makanan kini semakin berkembang dan modern karena industri bahan kemasan telah melakukan inovasi. Salah satu tujuan inovasi pada kemasan pangan yaitu guna mempertahankan keamanan dan kualitas pangan yang dapat memperpanjang umur simpan makanan tersebut. Hal ini merupakan tantangan bagi industri kemasan pangan. Di Indonesia sistem pengemasan pangan sedang berkembang dalam beberapa tahun terakhir guna menghasilkan peningkatan dari sistem pengemasan yang sudah ada.

Saat ini indusri bahan kemasan sudah banyak dijumpai seperti industri kemasan karton, kemasan plastik, kemasan laminasi dan lainnya. Namun, terlepas dari hal itu, kini industri kemasan pangan telah meluncurkan inovasi berbentuk kemasan aktif (active packaging) dan kemasan cerdas (intelligent packaging). Keduanya memiliki tujuan yang sedikit berbeda, yakni untuk memperpanjang umur simpan atau meningkatkan kualitas pangan dibutuhkan kemasan aktif, sedangkan untuk mengetahui kondisi pangan dibutuhkan kemasan cerdas.

Kemasan aktif dan kemasan cerdas sudah diterapkan dalam beberapa industri pangan dan beredar di pasaran. Perkembangan kemasan cerdas merupakan salah satu perkembangan yang inovatif. Kemasan cerdas mampu memantau mutu produk dan memberikan informasi kepada konsumen mengenai perubahan yang terjadi pada produk atau lingkungannya misal terjadi perubahan suhu, pH, dan pertumbuhan mikroba. Hal inilah yang membedakan dengan kemasan biasa atau kemasan konvensional yang hanya memuat informasi tentang komposisi, dan tanggal kadaluarsanya saja. 

Kemasan cerdas mampu menyampaikan informasi mengenai kondisi pangan melalui indikator, sensor, dan peralatan yang mampu mendeteksi reaksi biologis yang terjadi dalam kemasan. Biasanya kemasan cerdas digunakan untuk mendeteksi kesegaran suatu produk, untuk memperkirakan suhu ambang batas, dan untuk mendeteksi apakah terjadi kebocoran pada kemasan. Hal tersebut dapat terdeteksi dengan cara melihat perubahan indikator pada kemasan. 

Kemasan cerdas dapat diaplikasikan melalui indikator seperti time temperature indicator (TTI), indikator oksigen, indikator karbondioksida, indikator patogen, indikator kesegaran, dan breakage indicator. Teknik kemasan cerdas tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu indikator eksternal dan indikator internal. Indikator eksternal adalah indikator yang dapat mengukur bagian luar kondisi kemasan. Contohnya yaitu time temperature indicator. Sedangkan indikator yang dapat mengukur kualitas produk di dalam kemasan disebut indikator internal. Contohnya yaitu indikator oksigen, indikator karbondioksida, indikator patogen, dan indikator kesegaran. 

Keamanan kemasan pangan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjaga mutu pangan serta memperpanjang umur simpan. Pola pikir masyarakat yang berperan sebagai konsumen ikut mendorong berbagai macam inovasi kemasan pangan, salah satunya yaitu kemasan pangan dengan indikator sensor kesegaran. Produk pangan yang ditumbuhi mikroba atau terjadi perubahan kimia dapat dideteksi dengan indikator ini sehingga kualitas pangan dapat diketahui dengan mudah. Terbentuknya metabolit mikroba akibat adanya perubahan reaksi kimia dengan indikator pada kemasan akan membuat warna indikator yang dihasilkan berubah dari semula. Indikator kesegaran pangan dapat dideteksi secara langsung dan tidak langsung. Indikator kesegaran pangan dapat dideteksi dengan tidak langsung melalui indikator warna. Sedangkan indikator kesegaran pangan dapat dideteksi dengan cara langsung melalui biosensor. Salah satu indikator kesegaran pangan yang telah digunakan di beberapa perusahaan pangan contohnya adalah RipeSence.

RipeSence merupakan sensor bentuk label yang dapat mendeteksi tingkat kematangan buah melalui aroma yang dihasilkan oleh buah-buahan dalam bahan kemasan plastik polyethylene terephthalate (PET) yang dapat didaur ulang.

Pada kemasan ini, label RipeSence akan menunjukkan beberapa warna yang dihasilkan dari aroma buah tersebut sesuai dengan tingkat kematangannya, yaitu warna kuning yang berarti juicy, warna oren yang berarti firm, dan warna merah yang berarti crisp. Label RipeSence ini akan berubah warna dari merah menjadi kuning sesuai dengan meningkatnya tingkat kematangan buah tersebut. Dengan adanya RipeSence sebagai salah satu dari pengembangan kemasan cerdas, maka dapat membantu kita sebagai konsumen untuk memilih dan membeli buah dengan tingkat kematangan yang diinginkan tanpa harus mengecek dengan menekan buah-buah tersebut. Kemasan cerdas ini telah diaplikasikan pada beberapa buah yang memiliki daging buah yang keras atau berbiji seperti pir, apel, alpukat, jambu, kiwi, dan sebagainya.(*/) 

Oleh : Ida Ayu Iska Rakhmawati, SPi

Mahasiswa Magister Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor

1
SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terkini